Agus
Pribadi
Ada dua surat kabar/ koran yang menjadi media
yang nyaman bagi saya untuk memublikasikan karya sederhana saya berupa cerita
pendek, yakni Satelitpost dan Radar Banyumas. Keduanya meupakan koran lokal yang
ada di Kabupaten Banyumas.
Cerpen-cerpen karya saya yang terbit di Satelitpost
antara lain: 1) Buaya (16 Desember 2012), 2) Seekor Buaya di Pelupuk
Mata (30 Juni 2013), 3) Kucing (8 September 2013), 4) Perempuan
Tepi Krumput (17 Oktober 2013), 5) Hkayat Sepotong Lidah (19 Desember
2013), 6) Kolak Pisang (20 Juli 2014), 7) Sendiri (21 September
2014, 8) Unggas-Unggas Bersayap Putih (6 September 2015), 9) Kedatangan
(3 April 2016), 10) Mimpi Ibu (16 Juli 2017). Selain cerpen, tulisan
saya berupa cerkak (cerpen berbahasa Jawa dialek Banyumasan) juga terbit di Satelitpost,
antara lain: 1) Kaki Bengel (25 Agustus 2013), 2) Ngendong (16
Maret 2014), 3) Gadung (27 Mei 2014), 4) Dadi Guru (17 Januari
2016), 5) Lilin (23 April 2017).
Cerpen-cerpen karya saya yang terbit di
Radar Banyumas antara lain: 1) Riwayat Tambra (18 Februari 2018), 2) Perih
Peri (24 Maret 2018), 3) Buaya Sungai Godong (6 Januari 2019), 4) Kang
Limun Terbang ke Langit (5 Mei 2019), 5) Gadis Berbibir Tipis (19
Januari 2020), 6) Lelaki Penjaring Ikan dan Gadis di Tepi Hutan (1 November
2020).
Kedua koran lokal tersebut seperti sebuah
rumah yang nyaman bagi saya untuk menekuni kreativitas saya untuk menulis
sebuah karangan berupa cerpen. Ada rasa berdebar-debar saat hari Minggu datang—hari
di mana umumnya koran menerbitkan cerpen—dan saya biasanya akan pergi ke kota
untuk mencari lapak koran. Saya akan membuka lembar yang memuat cerpen, dan
saya akan memekik dalam hati kalau ada cerpen saya yang termuat di salah satu
koran lokal. Dengan dimuat saja, hati saya merasa teramat senang seperti mendapat
apresiasi dari orang tua sendiri. Saat akan menulis cerpen biasanya sudah saya
niatkan untuk mengirim ke media tersebut. Jarang sekali saya berpikiran untuk
mengirim cerpen ke koran tersebut setelah tidak dimuat di koran lain. Sering
kali saya melakukan proses menulis memang ditujukan untuk dikirim ke koran
Satelitpost atau Radar Banyumas.
Saat ini kedua koran tersebut sudah tidak
memuat cerpen: Satelitpost karena sudah tidak terbit, Radar Banyumas karena tidak
ada lagi rubrik yang memuat cerpen mulai Oktober 2021. Tentu sebagai penulis
yang biasa mengirim cerpen ke kedua media tersebut, saya merasa kehilangan. Kehilangan
sebuah rumah tempat memajang karya-karya sederhana. Kehilangan sebuah rumah
yang menginspirasi saya untuk terus mencari ide-ide baru untuk dituliskan
sebagai cerita pendek.
Terima kasih Satelitpost. Terima kasih
Radar Banyumas. Kedua media tersebut telah menempa saya menjadi penulis yang akan
terus berusaha menulis dengan lebih baik. (*)
Banyumas, 22 Mei 2022
