Selasa, 12 Mei 2026

Pelatihan Online Menulis Resensi Buku

 


Salam dan bahagia, 


Bagaimana menulis resensi buku yang baik? Ikuti Pelatihan Online Menulis Resensi Buku:


Mengikat Isi Buku melalui Menulis Resensi Buku 


🗒️ Minggu, 24 Mei 2026

⏰ Pukul 19.30 - 21.30 wib

🏠 via zoom

🍎Narasumber

NUR HADI (Adi Zam Zam, Penulis Lepas di berbagai media massa)


🍉Fasilitas: E-Sertifikat, materi, karya peserta dimuat di web kmap


Invesyasi: 50k

Daftar segera melalui link berikut ini: 

https://s.id/resensikmap240526


📞Narahubung:

Agus P(085290124307)

Sabtu, 20 September 2025

Sekuntum Mawar yang Tersisa

 

pixabay.com

Cerpen Agus Pribadi

Perempuan tua itu memiliki halaman rumah yang dipenuhi dengan tanaman mawar. Ia rajin menanam dan merawatnya di halaman depan, samping kiri, kanan, dan belakang rumahnya yang cukup besar. Ketika tanaman itu berbunga, rumahnya seperti sebuah kapal yang mengapung di tengah-tengah lautan mawar yang tenang dan tak berarus.

Kesibukannya menanam dan merawat mawar sengaja ia lakukan daripada melamun seorang diri. Sebelum  perempuan tua itu menanam dan merawat mawar, ia kerap melamun di teras depan rumahnya. Berjam-jam ia melihat lalu lalang kendaran yang cukup ramai, namun pikirannya melayang-layang entah ke mana. Ia tinggal seorang diri di rumahnya. Satu per satu anggota keluarganya telah pergi meninggalkannya. Ia memiliki beberapa ekor kucing yang datang dan pergi sesukanya. Kucing-kucing itu mengeong memecah kesunyian saat meminta makan. Saat kekenyangan, binatang yang mirip macan itu akan tertidur di dapur rumahnya dan keadaan kembali menjadi sunyi.

Kesibukannya tidak hanya menanam dan merawat mawar, perempuan tua itu juga menjual mawar di perempatan jalan sekira 500 meter dari rumahnya. Para pelanggannya yang akan nyekar di pemakaman senang membeli mawar-mawarnya. Selain murah, juga mawar-mawarnya terlihat segar dan cerah seperti selalu berada pada pohonnya meski sudah dipetik dan diletakkan di atas nampan. Setiap sore selepas Asar, perempuan tua itu sudah menata mawar-mawarnya di tempat yang biasa ia gunakan untuk berjualan. Hari-hari biasa, selain hari Kamis dagangannya lumayan laku. Namun, paling laku di hari Kamis, dimana para penziarah datang membeli mawar-mawarnya. Namun, bukannya ia merasa bahagia jika mawar-mawarnya ludes terjual di hari Kamis. Uang yang terkumpul dari hasil berjualan tidak mampu membahagiakannya. Saat ini ia tak terlalu membutuhkan uang. Ia punya sepetak sawah yang ditanami padi yang hasilnya untuk makan sehari-hari. Di sawah miliknya itu juga ditanami beraneka sayur mayur dan tanaman lainnya yang ia gunakan untuk kebutuhannya sehari-hari. Uang yang terkumpul dari berjualan mawar, kerap ia gunakan untuk infak di musala yang ada di dekat rumahnya.

Kesedihan tergambar di wajahnya saat di atas nampan tak ada lagi mawar tersisa. Seolah ia ikut kehilangan mawar-mawar yang telah ia rawat dengan tekun. Seolah ia tak rela mawar-mawar miliknya berpindah ke tangan orang lain.

Sore itu-Kamis, selepas Asar, seperti biasa ia menata lapak jualannya. Kali ini ia membawa mawar lebih banyak dari biasanya dengan harapan ada mawar yang tersisa meski hanya satu kuntum. Namun harapannya itu sepertinya akan sia-sia. Sekelebat ia selesai menggelar lapaknya, para penziarah langsung mengerubunginya seperti semut-semut hitam yang mengerubungi gula jawa. Dengan cekatan ia melayani para pelanggannya, sampai tak terasa tinggal sekuntum mawar tersisa. Ketika ia akan menyembunyikan sisa jualannya itu, seorang perempuan muda berseru, “Saya beli mawar itu!”

“Ini tinggal sekuntum, apa tidak kurang, Mba? Lebih baik Anda membeli di tempat lain.”

“Tidak apa-apa. Aku akan berziarah ke makam suamiku yang telah tiada setahun yang lalu.”

“Tapi, e.. maaf ya Mba… mawar ini…”

“Kenapa? Kalau gak niat berjualan tidak usah berjualan Ya Nek!” Perempuan muda itu meninggalkannya, menyisakan air mata yang mengalir pelan di pipinya. Ia mengemas nampan dan wadah lainnya. Seperti biasa, selepas berjualan, jelang Magrib, ia menuju ke sebuah pemakaman yang biasa dikunjungi para pelanggan lapaknya. Ia menuju ke sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan: RAMADINATA. Lahir: 1 Januari 1973. Wafat: 12 Maret 2015. Anak semata wayangnya telah tiada sepuluh tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan. Perempuan tua itu seperti kehilangan separuh hatinya saat mendapati anaknya terbujur tak berdaya diantarkan oleh ambulan yang menguing sepanjang jalan dan baru berhenti saat sampai di halaman rumahnya. Suara sirine ambulan itu seperti menerornya setiap saat seolah tertinggal di gendang telinganya. Anak semata wayangnya itu belum genap setahun menemukan pasangan hidupnya dan telah dibalut dalam ikatan suci sehidup semati. Hancur sudah harapannya menimang cucu dari buah cinta anak semata wayangnya dengan perempuan pujaannya. Belum lagi sang pendamping mengandung buah cinta dari anak semata wayangnya itu, Tuhan telah lebih cepat memanggilnya. Genap sudah kesedihan perempuan tua itu saat itu, karena setahun sebelum anak semata wayangnya dipanggil Yang Kuasa, suaminya telah pergi meninggalkannya entah ke mana. Kabar yang santer terdengar di sudut-sudut kampung, suaminya telah menetap di luar daerah bersama istri sirinya.

“Maaf ya Nak, ibu hanya membawakan sekuntum mawar untukmu. Jualan ibu hari ini sangat laris. Mereka, para penziarah itu mengerubuti mawar-mawar yang selalu segar yang seharusnya untukmu. Sekuntum mawar yang tersisa ini pun hampir berpindah ke tangan orang lain kalau tidak dengan sigap ibu mempertahankannya,” ucap perempuan tua itu lirih. Air matanya mencair setelah setelah mengembun menghangati pelupuk matanya.

Perempuan muda yang tadi berselisih dengannya lewat di depannya dan memalingkan wajahnya, seperti tak sudi menatapnya lagi. Azan magrib berkumandang pelan, perempuan tua itu masih khusyuk berdoa.(*)

Banyumas, 21 September 2025

Sabtu, 14 Desember 2024

Sekelumit Cerita Pengalaman Mengikuti Kelas Cerpen Kompas 2018

 

(sumber: Kompas cetak)

Dalam kesempatan ini saya akan berbagi sekelumit tentang pengalaman saya mengikuti Kelas Menulis Cerpen Kompas 2018 yang diadakan di Jakarta, 28-29 Juni 2018.

Hari Pertama, 28 Juni 2018

09.00-10.00 Author Speed Date

Peserta berkonsultasi dengan tiga orang mentor secara bergantian masing-masing selama 10 menit membahas cerpen yang telah dibuat peserta. Mba Linda Christanty memberi masukan agar saya jangan ragu membuat plot yang tajam sehingga cerita tidak datar, buat kejutan di akhir cerita. Bli Putu Fajar Arcana memberi masukan agar diperbanyak metafor-metafor dalam tulisan saya, dan jangan linear, sehingga cerita tidak terkesan polos. Pak Martin Aleida memberi masukan agar membuat paragraf pembuka semenarik mungkin, dan detail hendaknya yang berhubungan langsung dengan cerita.

16.30-18.00 Cerpenis Berbagi

Sebagian cerpenis Kompas yang menjadi nominasi cerpen terbaik kompas 2018 berbagi kiat-kiat dalam menulis cerpen. Dari diskusi dengan para peserta, ada hal-hal perlu digaris bawahi:

1.       Farizal Sikumbang cerpenis dari Aceh, mengaku awalnya sering ditolak koran kompas, namun pantang menyerah dan akhirnya membuahkan hasil. Salah satu karyanya masuk nominasi cerpen terbaik kompas. Menurutnya, untuk bisa menulis harus rajin membaca dan mengunjungi toko buku.

2.       Sori Siregar, penulis cerpen senior, biasanya mengirimkan karyanya paling awal ke kompas, jika tidak dimuat baru dikirim ke koran lain.

3.       Faisal Oddang menganggap menulis itu seperti sedang bertutur pada orang lain. Ia biasanya membaca cepen yang dibuatnya dan merekamnya, dan mengeditnya jika ada hal yang kurang pas.

4.       Rika juga bercerita tentang bagaimana  menulis cerpen.

5.       Ahmad Tohari menganggap kepuasan dalam menulis bukan pada saat dimuat di koran, namun pada saat telah menyelesaikannya. Adapun jika dimuat koran, baru itu kepuasan kedua.

19.00-21.45 Jamuan Cerpen Kompas

Cerpen Kasur Tanah karya Muna Masyari terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 2017, dan dipentaskan oleh Teater Mandiri dengan Sutradara Putu Wijaya.

Hari Kedua, 29 Juni 2018

Materi Kelas Cerpen Kompas

Saya berada di kelas Kuntowijaya dengan mentor Pak Martin Aleida, Mba Linda Christanty, dan Bli Putu Fajar Arcana sebagai fasilitator.

Sesi 1 Mengail gagasan untuk sebuah cerita, Martin Aleida

Pak Martin banyak bercerita tentang pengalamannya menulis cerita pendek. Menurut beliau, apa saja bisa dijadikan ide. Hal itu perlu disertai dengan pengalaman dan banyak membaca. Beliau tidak pernah menyelesaikan cerpennya kurang dari tiga minggu. Setelah diendapkan, beliau akan mengeditnya jika ada kata atau kalimat yang kurang “berbunyi”. Bagi beliau tulisan itu seperti bunyi yang teratur, jika ada yang sumbang perlu diedit. Menurut beliau karya satra yang baik, biasanya selalu berpihak pada korban. Tulisan yang baik adalah yang mampu menggetarkan hati pembacanya.

Bukan pilihan kata, tapi suasana yang dibangun. Salah satu caranya dengan teknik menulis surat.

Sesi 2 Struktur Cerita, Linda Christanty

Hal yang harus diperhatikan yang bisa menjadi kelemahan cerpenis :

1.       Karakter/ tokoh cerita harus digali semaksimal mungkin

2.       Alur/ plot yang tak terduga

3.       Detail yang relevan

4.       Dialog yang kuat, mendalam, dan punya efek

5.       Adegan yang membekas

6.       Konflik

7.       Editing

Cerita itu harus dinamis. Karya sastra tidak pernah menjadi kuno. Perlu menulis dengan sudut pandang dan angel yang baru. Penulis harus sabar dalam membuat suspen, tidak ingin menjejalkan semuanya saat itu juga.

Sesi 3 Permainan mengembangkan kalimat dari kumpulan kata, Putu Fajar Arcana

Peserta diminta memilih sepuluh kata dari potongan kertas koran. Kumpulan kata itu dibuat sebuah kalimat agar membentuk makna utuh. Latihan itu bermanfaat :

1.       Cermat

2.       Gagasan

3.       Logika/struktur

4.       Bunyi

5.       Kreativitas

6.       Makna, dan lain-lain

 

Demikian sekelumit tentang pengalaman saya mengikuti kelas cerpen kompas 2018. Semoga bermanfaat.[]

Banyumas, 1 Juli 2018

Kamis, 31 Oktober 2024

PELATIHAN MENULIS CERPEN BERSAMA MUFTI WIBOWO



 Salam dan bahagia, 

Ibu dan Bapak Guru, 


Bagaimana menulis cerpen yang baik, dan bagaimana membelajarkannya ke murid? 


Yuk ikuti...


Pelatihan Menulis Cerpen Membelajarkan Cerpen pada Murid untuk Tingkatkan Literasi



yang diselenggarakan oleh KMAP (Kelas Menulis Agus Pribadi) bekerjasama dengan KOMPLIT (Komunitas Penggerak Literasi)


🗒️ Sabtu, 9 November 2024

⏰ Pukul 19.30 - 21.00 WIB

       via zoom meeting


 🏹Investasi 29k

 🔖Fasilitas: e-sertifikat 32 jp, teman, ilmu, materi


Narasumber:

Mufti Wibowo, S.Pd

(Guru dan Cerpenis)


Daftar segera melalui link berikut ini: 

Pendaftaran Peserta


Gabung grup wa:

grup wa pelatihan menulis kmap


Narahubung:

Agus Pribadi 085290124307 (wa only)

Jumat, 27 September 2024

Bimbingan Teknis Penulisan Cerpen di Era IT

 


📢📢

Salam dan bahagia, 

Ibu dan Bapak Guru, 


Apakah Ibu Bapak ingin bisa menulis cerpen di era IT dan mengimbaskannya ke murid? 


Yuk ikuti...


Bimbingan Teknis *Penulisan Cerpen di Era IT*



yang diselenggarakan oleh Komunitas Belajar KOMPLIT (Komunitas Penggerak Literasi) bejerjasama dengan KMAP (Kelas Menulis Agus Pribadi)


🗒️ Sabtu, 5 Oktober 2024

⏰ Pukul 19.30 - 21.00 WIB

Via zoom meeting


 🔖Fasilitas: e-sertifikat 32 jp, teman, ilmu, materi


*Narasumber:*

*Agus Pribadi, S.Si*

(Penulis Cerpen dan Pegiat Kombel)


Daftar segera melalui link berikut ini: 

https://s.id/pendaftaranbimtek1komplit


Gabung grup wa:

https://s.id/grupwa-bimtek-komplit


Narahubung:

Yuni Praptiningsih 08156998218 (wa only)